Muka

Jumat, 30 September 2016

Sebelas (Pasca SNMPTN)

Gatau udah berapa lamanya aku di Rumah Sakit Unisma pada saat itu. Aku tetap tidak merasakan perasaan sewajarnya dalam tubuhku dan pikiranku. aku mulai melihat hal-hal 'aneh' dalam mata dan pikiranku. Tiap kali ku tertidur aku cuma mimpi buruk dan menakutkan. setiap kali aku bangun aku cuma bisa menangis dan berteriak, bahkan sesekali berdendang lagu jawa asing yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Capek.


Orang tuaku memutuskan untuk membawaku pulang dari rumah sakit. mungkin beliau saat itu berpikr bahwa tidak ada gunanya berlama-lama di rumah sakit dengan kondisiku yang tetap seperti itu, tidak ada perubahan. Kemudian kami pun pulang, bersama Lia. Keluargaku mengajak lia untuk ikut satu mobil bersama kami. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa terdiam dan tak henti-hentinya air mata mengalir dari mataku. Sesekali akupun bergumam, mendendangkan lagu-lagu jawa yang asing lagi. Lia juga mencoba menyadarkanku saat aku mulai melakukan itu.

Gatau kita udah nyampe mana waktu itu, tiba-tiba kita berhenti ke suatu pondok pesantren (entah aku lupa namanya) dan masih sekitar Kota Malang juga. Orang tuaku mengajak kami turun. aku pun turun. ibuku bilang dulu ayahku sering ke sini saat masih merantau ke malang. Sering mampir, minta doa katanya. Aku ga tau kenapa aku harus diajak ke tempat itu. Dalam pikiranku aku hanya tidak ingin berada di situ.

Pertama kami di jamu sebagai tamu dan disuruh makan. kami di sambut baik. Selanjutnya perasaanku mulai ga nyaman. Orang tuaku mengajakku untuk ke kamar mandi untuk 'dimandikan'. pertama-tama aku emang diam dan melakukan apa yang disuruh ibuku. Ga ada adegan buka baju di sini, jadi jangan mikir macem-macem. Kemudian beberapa santri yang mengelilingiku disitu mulai melantunkan doa-doa panjang dan lirih, disitu aku mulai berontak. Seisi tubuhku mulai gemetar dan tidak terkendali. Mereka mulai memegangiku, ibu ku memeluku dengan erat dan berkata,

"Istighfar, Nak. Rima Andani. Nak, sadar. Tenang nduk..." Berulang-ulang sambil tetap memegangiku dan menangis. 

Aku tetap meronta-ronta dan ga kalah histerisnya menangis. Aku menangis histeris dan mencoba memberontak mereka yang ada disekitarku, termasuk ibuku. Aku seratus persen sadar di saat seperti itu. aku bisa merasakan sakit, capek, dan berbagai perasaan lain. Namun, tetap tidak bisa ku kendalikan. seakan aku hanya menjadi penonton yang tidak berhak apapun atas diriku. Para santri tersebut tetap dengan tenangnya melantunkan doa bersama-sama di ruang kamar mandi yang aku lupa tepatnya seperti apa bentuknya itu. Seakan sudah terencana doa apa yang cocok dilantunkan untuk anak sepertiku, mereka sudah memersiapkan semua itu sebelum kami datang. Entah, mungkin orang tuaku memang sudah memberi kabar sebelumnya tentang kedatangan kami. Aku lupa hal itu berlangsung berapa lama. Akhirnya aku muntah, memuntahkan apapun yang ada di perutku. dan aku mulai tenang dan mulai bisa mengontrol diriku. Aku sudah 'baikan'. Aku pun menangis (ga menangis histeris lagi) di pelukan ibuku. Badanku terasa lemas, sesaat setelah itu kami pun pulang. Aku tidur sepanjang perjalanan. Ibuku bilang aku tidur sangat nyenyak saat perjalanan pulang. Kami berharap semua bisa kembali normal saat kita di rumah nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar