Muka

Jumat, 30 September 2016

Sepuluh

Lama sekali ga menulis. waktu berlalu dengan sangat cepat. hal itu bisa kalian lihat dari postinganku terakhir kali (Sembilan), sudah beberapa tahun lalu. Banyak hal mendewasakan.

Kali ini aku akan bercerita tentang keluargaku. Aku hidup dalam keluarga berlatarbelakang baik namun banyak ditimpa masalah. hidup sebagai anak kedua dari tiga bersaudara cewe semua bakalan ngasih kamu pressure yang berbeda. itu yang aku rasakan.

Kedua orang tuaku nikah muda, bukan muda lagi, namun masih belia. Mereka hidup dan memperjuangkannya dengan penuh kerja keras mulai dari nol dan tak punya latar pendidikan formal yang baik. Sangat miris buat tau bagaimana kisah mereka di masa muda dulu yang secuil pun ga aku rasakan pahitnya. tiga bersaudara, cewe semua. Dengan orang tua yang berpendidikan minim, dan sudah bercerai pula.

Mempunyai saudara kandung yang cantik-cantik dan feminin, sedangkan kamu bermuka biasa aja dan ga feminin bajkalan bikin kamu ngerasa beda. Itu yang aku rasain. Well, aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi salah satu idaman para pelajar. Serta sangat bersyukur bisa hidup di zaman modern dimana arus teknologi dan informasi mengalir deras yang bisa bikin kamu berpikir lebih kritis dan terbuka.

Sayangnya, semua kenikmatan itu tidak sempat dirasakan kedua orang tuaku saat mereka muda. Alhasil, beginilah, pernikahan yang seharusnya bisa mendewasakan, malah menjadi semacam permainan. Orang tua yang seharusnya menjadi panutan justru berpikir sangat sempit dan memberi tekanan tersendiri bagi anak-anak mereka.

Benar, tidak semua orang tua yang berpendidikan kurang akan bercerai dan memberikan tekanan bagi anak-anak mereka. Namun, hal itu terjadi pada kedua orang tuaku yang keduanya memiliki sifat keras dan tidak mau mengalah. Mereka seakan tidak mengerti bagaimana harus bersikap saat menghadapi masalah pada hubungan mereka. Anak menjadi korban. Meskipun tidak selamanya korban akan menjadi jatuh dan hancur, namun jelas sekali perpisahan orang tua yang dilandasi ego masing-masing akan memberikan dampak kepada anak-anaknya.

Dampak yang aku dan saudara rasakan sendiri dari perpisahan kedua orang tua kami adalah tuntutan cara berpikir yang harus jauh lebih dewasa melebihi umur. Kemampuan untuk mengambil keputusan bijak di tengah tekanan harus kita miliki. hal itu karena terkadang orang tua kita berpikir jauh lebih ceroboh dan kekanank-kanakan dalam bertindak. Bahkan kadang menuntut anak-anaknya untuk jauh lebih mengerti posisi mereka dibanding mereka yang mengerti kondisi psikis anak-anak mereka. bahkan, kita lebih sering terbengkalai.

Dampak untuk ku pribadi sangat besar. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, cewe semua. dampaknya adalah perbandingan. Tidak jarang kami bertiga dibandingkan satu sama lain, kadang bahkan dipukul rata. sedangkan aku yang merasa berbeda dari kedua saudaraku merasa sangat tertekan dengan kondisi seperti itu. bukan hanya masalah penampilan yang berbeda (tidak feminim dan sedikit pecicilan). Hello, aku harus sadar aku hidup dilingkungan yang berpengatahuan minim terhadap HAM dan kebebasan berekspresi. Jadi dengan intinya, kamu ga akan bisa jadi hijau di lingkungan yang melahirkan kamu dan mengharuskan kamu jadi merah. It's complicated. Kamu harus jadi cantik, karena kalian bertiga sudah sewajarnya cantik. kalian harus jadi feminim karena memang wanita cantik sudah sewajarnya feminim, dan tidak pecicilan. Hal itu semakin terasa ketika kalian lebih berpengetahuan tentang hal-hal itu. Underpressured.

Bukan hanya dari tampilan fisik atau cara berperilaku, bahkan jodoh (soulmate) idaman pun jadi bahan perbandingan. Memiliki seorang kakak wanita yang sudah lebih dulu menikah dengan lelaki idamannya, bukan idaman orang tua membuatku berpikir dua kali untuk memilih laki-laki pendamping hidup. sudah aku bilangkan, hidup dikeluargaku tidak meridhoi kebebasan berekspresi. Alhasil, pilihanmu yang tidak menjadi pilihan orang tuamu akan memberatkan langkahmu. Ingat, ridho orang tua yang terpenting. Itu yang aku rasakan sekarang, bagaimana caranya mendapatkan sosok pendamping yang akan menjadi imam mu kelak namun tetap menjadi idaman orang tuamu. memang, orang tua tidak akan minta yang macam-macam kepadamu terhadap calonmu, tapi bagaimana kalo orang tuamu sudah memiliki standard khusus yang siap dijadikan pembanding?
Ingat, kedua saudaramu jauh lebih memiliki kesempurnaan fisik dari kamu. Laki-laki tampan dan mapan akan lebih memilih wanita yang jauh lebih cantik, ruapawan dan elegan untuk dijadikan pendamping. dan itu tidak aku miliki. Sedang aku terus meyakinkan diriku dengan statement kebohongan, bahwa wanita yang berpendidikan tinggi yang pintar dan memiliki jenjang karier yang bagus akan jauh lebih mudah dalam memilih lelaki.
Yang benar saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar