Muka

Jumat, 30 September 2016

Dua Belas

CINTA. Kekasih dan Patah Hati.


Hari-hari berlangsung dengan sangat cepat di Kota Malang. Kesibukan demi kesibukan telah aku lalui dengan senang dan terkadang sedih. banyak pengalamn baru yang aku dapat di Kota Malang ini, termasuk PACAR BARU.

Tunggu, kalian jangan seneng dulu, ini bukan pacar baru, lebih tepatnya orang lama yang baru diajak balikan lagi. entah diajak atau mengajak pada waktu itu, aku lupa. Tapi kalian bisa simpulkan sendiri nanti.

Ada nama Vicky sebagai orang yang aku maksud pacar baru ku tadi. Mantanku pas SMP dan SMA dulu. Dan kita lanjut balikan lagi pas kuliah ini. Gila kan? Iya memang gila. Kita udah beberapa kali putus nyambung dan berganti pelipur hati. Namun, tiap kali ada kesempatan yang mendekatkan kita, kita jadian lagi. Dan aku rasa kali ini jadian kita yang terakhir, harapanku sih gitu dulu.

Sering kali teman-teman dekatku memberikan nasehat halus buat ga mengulangi hubunganku dengan dia. Iya halus, hal itu karena semua keputusan tergantung padaku, perasaanku ya aku yang punya. Kenapa mereka begitu? karena mereka tau bagaimana track record Vicky bagi cewe-cewe yang pernah dekat dengannya. Dan aku buta pada saat itu. Aku suka sama Vicky. Dia terlihat baik dan selalu memberi perhatian kepadaku (menurutku saat itu). Aku selalu terbuai dengan perhatiannya kepadaku saat itu dan memberiku harapan baik juga. Aku berpikir perhatian yang dia berikan lebih dari perhatian dari seorang teman kepadaku. Maklum, aku tidak pernah peduli dengan hubungan dia dengan orang lain selain aku, itu salahnya. Jadi yang aku lihat saat itu, perhatian dan perilaku baik yang dia berikan itu cuma buat aku, gak buat yang lain. Padahal dia juga ga jarang nunjukin kalo dia itu nganggep aku cuma temen, seperti waktu aku ngajak dia jalan ke Teluk Hijau, salah satu pantai bagus di Banyuwangi. Aku ngajak dia jalan dengan beberapa temenku, cewe dan cowok.

"Eh, temenmu yang itu luamayan juga ya? Apa yang bareng dia itu pacarnya?" Hah, dia bilang gitu ke aku? Aneh ga sih? Aku tetep berusaha berpikir positif (pura-pura buta).
"Kenapa? Naksir? Iya itu pacarnya." jawabku santai.

Kalian tau, saking seringnya aku jalan sama dia pas dirumah, kakakku sering nanyain hubunganku sama dia itu seperti apa sebenernya. Kalo cuma temen kok sering banget jalan. terus aku ceritain bagaimana dia nge - chat aku tiap hari, dan kakak ku bilang. Jangan mau digituin cowo, kalo suka bilang suka. Jangan cuma diambil enaknya. Kata-kata mbak ku itu berhasil ngmporin aku buat negasin hubunganku sama Vicky itu gimana. Hingga pada saat di Teluk Hijau, aku memutuskan untuk mulai membuka obrolan dengan dia. Kejadian ini sebenernya lucu. Kalian tau, untuk sampai ke Teluk Hijau itu butuh waktu yang tidak sebentar dari rumah. kemudian trek jalan yang tidak mulus untuk dlalui kendaraan membuat semakin lama, selain itu kita juga harus jalan kaki beberapa kilo setelah kita parkir kendaraan untuk sampai ke Teluk Hijau itu. Dan aku, menghentikan perjalanan itu setelah kita kurang sedikit lagi akan sampai ke Teluk Hijau hanya untuk berbicara serius dengan Vicky. GIla kan? padahal kita udah susah payah sampe situ, eh dengan gobloknya aku ga mau ngelanjutin perjalanan itu demi ngobrol serius sama Vicky. Vicky sih mau, tapi teman-temanku yang lain melanjutkan perjalanannya.

"Lho, kita ga lanjut? Bentar lagi nyampe..." kata Vicky dengan sedikit heran. 
"Bentar aku mau ngomong serius bentar ga apa2 kan?"jawabku
"Oh, iya ngomong aja."
"Sebenernya aku mau ngomongin kita. Kita udah deket kaya gini, menurut kamu, kamu itu gimana nganggep aku?" Serius itu tolol banget. Ya ampun, aku malu! Sumpah.
"Ya gimana ya, aku juga bingung. Aku nyaman sama kamu yang mau nemenin aku. Aku ga tau harus gimana juga." Gila. Emang jawabannya ambigu banget. Aku juga goblok, kenapa waktu itu aku ga nyadar kalo mungkin aja dia cuma nganggep aku temen aja, aku malah mikir dia udah nyaman sama aku. Gila kan? Goblok emang.
Percakapan itu intinya, kita juga sempat mebahas beberapa hal lain yang ga penting. Kemudian temen-temenku yang lain udah pada balik dari Teluk Hijau dan ngajak kita balik.

Hari demi hari berlalu setelah percakapan Teluk Hijau itu. Dia tetap menggulirkan perhatian yang aku suka. Lagi-lagi aku berharap lebih. Dalam hatiku berkata, aku akan membuka hati untuknya, untuk kesekian kali. Namun jika gagal lagi, memang sudah keterlaluan. Akhirnya aku juga meladeni dia dengan berbekal harapan baik dari hatiku dan diselingi dengan perhatian dan 'gombalan' dia yang bikin aku percaya. Kita jadian pas kita di Malang.

Waktu demi waktu kita lalui bareng sama dia, dia kuliah di Malang juga tapi beda kampus. Tapi kita tetep sering ketemu. Dia sering ngajak aku jalan ke tempat yang belum sempat aku datangi sebelumnya di Malang (maklum masih aura maba yang cupu). Saking bahagianya aku bisa balikan sama dia tanpa tau tentang dia saat itu, aku mulai menutup mataku terhadap hal-hal yang bisa merusak hubunganku. Aku ga mau tau. Aku cuma pingin menjalani kisahku dengan dia saat itu. dan aku senang.

Namun beberapa kali aku menjumpai hal aneh yang seharusnya membuatku curiga sama dia. Pertama, aku jumpai foto dia dengan cewe di hapenya. Dia bilang itu foto mantannya. dengan percaya diri dia bilang itu foto kenang-kenangan, ngapain dihapus? Oke, fine. Aku mikir emang aku yang kudu lebih dewasa saat itu, ngapain aku harus cemburu toh dia juga udah jadi punyaku. Selanjutnya, dia hampir ga pernah ngajak aku jalan bareng temen-temennya. Yang ini aku anggep wajar lagi, soalnya aku emang anaknya agak rewel. rewelnya, aku susah beradaptasi sama orang baru. Jadi mungkin Vicky mikir aku ga bakal mau kalo diajak jalan rame-rame, padahal aku sih biasa aja sebenernya. Selanjutnya, ada kejadian yang bikin aku bener-bener heran waktu dia ngajak aku makan di warung yang ga berada di tengah jalan tapi di pinggir jalan. Dia tiba-tiba merunduk dan bingung salah tingkah pas kita lagi asik makan.

"Eh, kamu kenapa?" Tanyaku heran.
"Enggak, itu kayaknya mantanku deh." kata dia sambil menunjuk salah satu dari beberapa mbak2 yang sedang bergerombol di meja sebelah kita.
"Eh, tapi kayaknya bukan deh. Aman." katanya. Ha? aku ga tau lagi harus bereaksi bagaimana waktu itu. Aku hanya diam dan melanjutkan makan dengan cepat. aku memendam pertanyaan waktu itu. Emang kenapa kalo itu mantannya? emang kenapa kalo mantannya lihat dia? emang kenapa kalo mantannya lihat dia sama AKU?

Ada banyak kenjanggalan sebenernya yang ga aku sadari kalo itu sebenernya janggal. Tapi karena aku udah terlanjur percaya sama dia ga bakal mungkin ngulangi kesalahan yang sama di umur yang segitu, hubungan kita pun tetep berlanjut. Ditambah lagi 'hasutan' halus salah satu temanku yang juga berteman baik dengannya yang meyakinkan aku buat percaya sama Vicky, sebut saja Gogo. Aku percaya sama Gogo karena dia memang baik dan dia juga kenal baik sama Vicky.

Hingga pada akhirnya, kejadian tak terduga terjadi. Waktu itu kita jalan bareng, ga tau kenapa aku ngebet banget pingin priksa hapenya. Dia menolak dengan parahnya dan berusaha merebut hapenya yang aku pegang itu dari tanganku. aku tetep memaksa dengan sambil ketawa-tawa. Dan aku pikir dia emang lagi bercanda, tapi aku tambah penasaran kenapa dia nolak ngasih hape nya ke aku. Mungkin karena dia malu kita rebutan hape dilihatin orang yang lewat, akhirnya dia ngasih hapenya ke aku.

"Eh, entar di inbox (sms) ada anak yang aku namain Gajelas (bukan itu sebernya tapi aku lupa) itu temenku cowok. Dia itu aneh, dia suka sms perhatian gitu ke aku. Ga usah dihiraukan ya?" kata dia pas aku coba buka hapenya.

Dan ternyata benar. Ada sms dari Gajelas itu banyak, dan di respon baik sama si Vicky. Anehnya, kayaknya ga mungkin kalo sms itu dari cowok. Itu jelas sekali sama seperti waktu Vicky sms kasih aku perhatian dulu. Mereka saling kasih perhatian! Aku langsung mendesak Vicky untuk berkata jujur. akhirnya dia mengakui kalo itu emang cewe, temen kampusnya katanya. Aku langsung terdiam. Pikiranku berkecamuk. Tanpa bertanya panjang lebar aku pun mengajak dia pulang. Dan kita putus. Sampai sekarang aku juga gatau siapa cewe di sms itu. yang aku tau, aku bodoh.

Bodoh.
Dari sekian banyak petunjuk yang Allah berikan padaku cuma satu kejadian itu yang mampu menyadarkan aku betapa bodohnya aku saat itu. Aku nggak nyalahin siapapun selain kebodohanku sebagai cewek. Aku juga ada niat buat nyamain semua cowok di dunia ini. Semua cowok pasti beda. Beda caranya menyakiti hati cewek. 
Enggak kok, mereka beneran beda-beda. Mungkin aku hanya kebetulan didekatkan dengan laki-laki seperti itu agar aku sadar betapa gobloknya aku dapat mengartikan perhatian laki-laki. Pada dasarnya semua laki-laki akan memberikan perhatian lebih kepada semua orang, semua cewek, yang mau dikasih perhatian. Dan yang paling penting, cewe kudu lebih pinter buat bedain mana cowo yang emang kasih perhatian sayang, sama yang suka cari perhatian biar dikira sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar