Muka

Jumat, 07 Oktober 2016

Tiga Belas

Keluarga : Peluang dan Tantangan.
Dari sekian banyak postingan. Postingan ini cukup menyayat hati.



Aku saat ini jomblo, eh bukan, maksudnya aku saat ini hidup sebagai anak kedua dari tiga bersaudara cewe semua. Kakakku bernama Nur Aini – biasa aku panggil mbak Nur – umur terpaut tujuh tahun lebih tua dariku, sudah menikah dengan laki-laki pilihannya – yang sukses bikin dia berhenti kuliah di semester ke tujuh tanpa alasan yang jelas, dan sekarang sudah dikaruniai satu orang anak (mau dua kayaknya, insyaAllah). Keluarga kecilnya masih tinggal satu atap dengan kami (aku, ayahku, dan adik ku) di rumah ayahku. Adik ku bernama lengkap Relly Sasana Putri atau yang biasa aku panggil Tonggos, eh salah, Putri maksudku. Dia berusia enam tahun lebih muda dariku namun sudah berpenampilan fisik sepuluh tahun lebih dewasa dari umurnya (mbalap aku) karena kemampuannya berpenampilan layaknya wanita dewasa nan anggun (menurutnya).

Dimana ibuku? Ayah dan ibuku sudah mulai menjalankan aktifitas kawin-cerai mulai aku duduk di kelas empat SD – sampai sekarang. Setiap kali perceraian selalu dipicu alasan klasik yaitu orang ketiga yang berasal dari ayahku (aku biasa panggil ayahku ‘Bapak’). Bukan sesuatu yang wajar sih kawin cerai kaya gitu, jadi ga patut dicontoh. Kami (aku dan kedua saudaraku) sebagai anak dan keluarga tidak pernah menerima kondisi keluarga seperti itu sampai sekarang, meskipun kenyataan pahit harus tetap dijalani. Kami memutuskan untuk ikut tinggal bersama ayah saat ini karena semua sumber penghidupan ada pada beliau (re : materi). Iya, kami memang materialistik. Walaupun kami tau kalau sumber perpecahan ada pada ayahku. Maklum saja, suami mbak ku tidak memiliki pekerjaan tetap hingga membuat dia harus ikut bekerja sesuai arahan ayahku, jadi mbak ku harus stay bersama kami. Maklum, ayahku belum mengizinkan mbak ku untuk tinggal di rumah sendiri, selain memang dia belum punya rumah sendiri. Sedangkan aku, masih terikat pada status mahasiswa lama yang tak kunjung wisuda (apalagi kerja) yang maksa aku buat tetep merongrong minta duit dari ayahku. Secara, sumber penghasilan berasal dari beliau. Sedang adikku, tidak jauh beda denganku, hanya saja dia masih SMA, ditambah gaya hidupnya yang sedikit berlebihan dalam berbelanja bikin dia kudu tetep bersimpuh di kaki ayahku agar uang saku tetep terjaga.

Bagaimana dengan ibuku? Beliau tinggal seorang diri di rumah almarhumah Nenek, di sebuah desa kecil namun padat penduduk yang bisa ditempuh 1.5 sampai dengan 2 jam perjalanan dari rumah ayahku. Cukup jauh, namun masih satu kabupaten. Iya, beliau sendirian di sana. Aku yang masih stay di Malang untuk menempuh perkuliahan sering kali ngerasa capek waktu harus mudik. Capek, karena harus menempuh perjalanan jauh dari Malang ke Banyuwangi. Belum lagi sesampai di Banyuwangi harus milih, ke tempat ibu dulu atau langsung ke rumah ayah. Seringkali waktu liburan yang singkat bikin aku mutusin buat stay di Malang aja. Karena pilihan yang sulit dan melelahkan harus aku jalani nanti pas dirumah. Kebanyakan aku ngerasa rumah bukan tempat yang tepat untuk melepas penat. Sekali lagi, pemikiran seperti itu bukan contoh yang baik. Okay, lanjut. Ibu ku tinggal sendirian di rumah almarhumah nenek di sebuah desa padat penduduk *ngulang lagi biar jelas*. Itu desa dan itu padat penduduk. Kalian tau, hidup di perdesaan tidak selamanya akan memberikan kehidupan yang menyenangkan seperti yang sering dipertontonkan di ftv. Emang sih, kalo masalah pemandangan desa yang asri, air jernih, jauh dari hiruk pikuk kota pasti akan kalian dapati di tempat ibuku. Namun, mental masyarakat desa yang berkoloni (tidak individualis) akan memaksa kalian buat ‘hidup’ bersama mereka. Hidup, membagi segala keluh kesah, membagi makanan ataupun perbekalan, membagi apapun yang bisa dibagi, termasuk aib keluarga. Kalian ga akan bisa hidup di desa tanpa tetangga kalian tau apa yang sedang terjadi dengan kehidupan kalian. Mereka akan selalu tau, dan harus tau agar kalian hidup damai bersama mereka.

Kadang, itu yang bikin aku merasa ga betah tinggal bersama ibu. Tetangga. Mereka selalu ngerti apa yang sedang terjadi di keluargaku, dan kalian tau kan berita itu ga mungkin tersebar kalo ga ada yang menyebar. Ibuku. Setelah lama membiasakan hidup dengan masyarakat perdesaan yang ‘harmonis’, membuat ibuku juga mulai terbiasa untuk menceritakan hal-hal yang dia jalani dalam kehidupannya dengan tetangga-tetangganya yang tidak sedikit juga merupakan saudara dekat. Apapun itu, sebenernya aku juga ga ngerti hal semacam itu lumrah atau engga dilakuin kalo kalian hidup berkoloni dengan tetangga. Ibuku tidak bekerja apapun di rumah. Beliau hanya seorang janda cantik nan berumur yang  berprofesi ibu rumah tangga yang suka ngerumpi dengan tetangga. Layaknya ibu-ibu rumah tangga lainnya. Beliau sebenarnya pekerja keras, cuma enggan untuk memulai usaha karena terdoktrin pemikiran ibu-ibu desa yang sempit. Wanita tidak selayaknya bekerja. Apalagi, untuk masalah pemasukan, ayahku tidak pernah melepas tanggungjawab nya sebagai sosok ‘suami’ yang masih siap sedia memberikan materi. Dan bagaimanapun, hubungan mereka sebenarnya tidak seburuk ataupun sebaik yang kalian pikirkan. Mereka – dalam kondisi bercerai seperti ini – masih sering menjalin komunikasi layaknya suami dan istri, bertukar cerita, bertemu, dan lain sebagainya. Hanya saja, status pernikahan mereka yang sudah tidak bersama lagi. Aku dan saudara-saudaraku memaklumi masalah itu, mereka masih saling mencintai, tapi ego mereka tetep tinggi untuk tidak saling menghargai. Meskipun begitu, ibuku hanya manusia biasa. Pasti dalam lubuk hatinya juga ada perasaan sepi akan hadirnya sosok ‘suami’ yang sebenarnya dalam hidupnya. Cuma aku dan saudara-saudaraku belum bisa menerima kenyataan bahwa ibuku harus menikah lagi.

Bagaimana dengan ayahku? Ayahku adalah tipe orang yang entahlah. Errghh... Sebenarnya beliau adalah contoh panutan pekerja keras yang sangat baik, tapi bukan panutan ayah yang baik. Beliau sangat money oriented. Beliau sangat peka dan keras kalau masalah pekerjaan. Beliau juga terkenal sebagai bos yang sangat otoriter dan diktator yang membuat banyak orang lain takut kepadanya, bukan segan, bahkan anak-anaknya. Beliau memberikan kasih sayangnya yang melimpah kepada keluarganya lewat limpahan materi yang beliau berikan. Klasik. Beliau bukan PNS, hanya wiraswasta yang pernah menjajaki berbagai jenis usaha namun ujungnya kembali ke bisnis kelautan sebagai peruntungannya. Dia memiliki usaha tambak udang sebagai bisnis andalannya. Beliau meskipun sukses di dunia bisnis, namun beliau tidak pernah berusaha menjanjaki usaha sektor formal. Wajar, less education. Beliau pebisnis sukses yang masa mudanya tidak sempat mengenyam bangku pendidikan yang selayaknya. Kebanyakan ilmu bisnis beliau dapati dari pengalaman orang dan uji coba beliau sendiri. Alhasil, pengalaman yang beliau dapatkan tidak bisa membohongi kenyataan bahwa memang beliau orang yang gigih dalam bekerja. Hal itu ditambah dengan ego dan sifat keras kepalanya membuat keputusan beliau susah digoyahkan, bahkan oleh anak-anaknya. Walaupun anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan yang lebih baik darinya, hal itu tidak bisa membuat anak-anaknya lebih pintar dari beliau, menurut beliau. Padahal, jika orang tua memiliki lebih banyak pengalaman, sedangkan anak (masih) hanya memiliki pendidikan, maka tugas orang tua adalah mengarahkan, bukan menyudutkan ataupun menjatuhkan. Kalau bahas masalah orang ketiga, sampai sekarang beliau masih menjalin hubungan dengan ‘mereka’, entah berapa jumlahnya. Aku dan saudara-saudaraku sampai sekarang – meskipun dongkol dalam hati – tetap tidak ambil pusing dengan permasalahan itu. Yang kami tau, ibu dan ayah kami cuma satu, ngga ada yang lain. Well, aku ngga akan bahas itu terlalu jauh. Banyak orang bilang mau dibawa kemana kisah keluarga kami, sampai anaknya gede kok tetap seperti itu. Jangankan orang lain, kamipun juga sering mikir kaya gitu. Namun, hal yang tetap kami lakukan cuma berdoa dan jalanin aja dulu. Siapa tau cocok, eh.

Bagaimana dengan dampaknya sama aku dan saudara-saudaraku?

Kakakku (Mbak Nur)

Mbak Nur tumbuh menjadi anak pertama seperti layaknya anak pertama lainnya. Lebih dewasa pemikirannya, bijak, dan pengertian. Dia juga aku anggap sebagai orangtua keduaku, saat aku tidak bisa menjumpai sosok ‘orang tua’ dari orang tuaku yang sesungguhnya. Apalagi, dengan kondisi keluarga yang seperti ini, Mbak Nur dituntut untuk jauh lebih dewasa dari orang tua kita sendiri. Mbak Nur pada dasarnya penurut, bukan pemberontak. Dia tidak mampu melawan apapun yang orangtua kami katakan meskipun sebenarnya dia tidak setuju. Dia pendiam, dia lebih banyak memendam semua permasalahannya dan menyelesaikannya sendiri. Kami jarang sekali mendengar keluh kesahnya. Jadi sekali dia berkeluh kesah, mungkin itu memang permasalahan yang sangat berat. Keluarga kecilnya masih tinggal bersama kami, hal itu karena suami pilihannya belum mampu membuat mereka hidup mandiri. Hal itu juga yang membuat kedua orangtuaku kurang setuju dengan laki-laki pilihan kakakku itu. Mereka seperti sudah bisa menebak akan seperti apa jalan hidup yang ditempuh kakakku bersama lelaki pilihannya itu. Padahal sebenarnya, pemikiran seperti itu muncul dari asas ketidakpercayaan orangtua kepada setiap orang. Alhasil, mereka menjadi sangat pemilih bahkan underestimate terhadap semua orang, termasuk menantu. Padahal, rezeki orang siapa yang tau. Namun, pemikiran orang tua yang seperti itu seakan menjadi doa bagi nasib anak-anaknya, itu yang terjadi pada keluarga kecil kakakku, dia belum bisa lepas sepenuhnya dari kendali orang tua. Padahal nih ya, keluarga kecil mereka itu sering bikin aku salut. Di usia kakak ku yang msih relatif muda itu, dia udah mampu berpikir sangat bjak dan berupaya keras untuk memanajemen segala urusan keluarganya dengan sangat bijak. Keluarganya juga lumayan harmonis. Salut.

Aku (Rima)

Aku adalah anak kedua yang tumbuh dengan segala pemikiran ‘berhati-hati’ terhadap orang-orang sekitar akibat kondisi keluargaku yang bisa dibilang berantakan. Aku selalu memikirkan hal-hal dengan sangat serius dan bahkan tidak jarang berpikiran negatif pada setiap orang. Hal itu karena aku tumbuh dewasa dengan kondisi yang penuh bahan pembanding. Sebut aja masalah percintaan, yang menjadi kendala utama saat ini, karena banyak orang yang mempertanyakan kenapa kisah cintaku jarang terekspose. Aku pemilih. Aku pernah disakiti laki-laki, keluargaku broken home, kakakku tidak begitu direstui karena hidup dengan laki-laki pilihannya. Alasan klasik yang berhasil buat aku untuk mikir dua atau tiga kali saat akan menjalin relasi dengan orang baru. Aku yang pada dasarnya keras kepala menjadi lebih susah didekati dengan pikiran-pikiran yang aku ciptakan sendiri. Aku sering sekali berpikir memakai otak daripada pakai perasaan, jadi aku seringkali terkesan cuek dengan maslah keluargaku, padahal dalam hati aku juga berantakan. Tapi logikaku seringkali mengalahkan perasaanku. Aku tumbuh jadi pribadi yang sedikit bicara dan sedikit kerja juga saat dirumah. Aku lebih suka berdiam diri di kamar dan asyik dengan duniaku sendiri, sendirian. Itu kenapa aku memiliki lebih sedikit teman saat aku pulang kampung. Karena aku jarang bersosialisasi dengan orang-orang. Aku susah bersosialisasi. Padahal, sekali aku dekat dengan orang, aku akan menaruh kepercayaanku pada orang itu dan setia. Itu kenapa aku selalu memiliki satu dua orang teman (tidak banyak) saat bergaul, tapi mereka adalah orang yang aku percaya dan bisa bikin aku jadi diri sendiri dan menggila. Susah memang untuk dekat denganku, apalagi laki-laki. Karena pada dasarnya aku juga pemalu yang keras kepala. Aku selalu merasa, aku harus mendapatkan laki-laki yang kuat mental dan berhati baja untuk bertahan hidup denganku. Namun juga tetap bisa membuatku dingin di saat aku mulai memanas. Klise. Klasik. Males.

Adikku (Putri)

Sedikit tragis nasib Putri. Sebagai anak terakhir, dia lahir dan tumbuh dewasa dengan kondisi keluarga yang carut marut. Keluargaku mulai cerai pertama kali saat dia masih balita (aku lupa tepatnya dia umur berapa). Semakin dewasa dia mulai menunjukkan sisi berontaknya. Dia pada dasarnya baik, cuma karena dia tumbuh dengan kondisi rumah yang sudah acak adut bikin dia juga sering acak adut. Tingkahnya yang berontak sering kali menguras emosi seisi rumah. Dia lebih berani melawan perkataan orang tuanya. Mungkin menurutnya, orangtua tidak menunjukkan sisi mereka yang layak untuk disebut orang tua dan dihormati untuk anak-anaknya. Lagi-lagi, itu tidak patut dicontoh. Lahir dengan rupa yang cantik membuat dia kadang khilaf dan sombong. Tapi untungnya, adikku ini nakal, tapi masih batas wajar. Dia hanya menyiksa batin kedua orangtuanya dengan susah nurut perkataan orangtua, jarang masuk sekolah, dan suka belanja-belanja dan menghamburkan banyak uang. Selebihnya, masih terkontrol (setau kami keluarganya sih gitu). Namun, beberapa kekurangan dia itu berhasil bikin aku jaga jarak dengannya. Bukan kakak yang baik memang, tapi watak ku yang keras dan posisiku sebagai saudara yang lebih tua membuatku ingin dihargai oleh adikku, namun hal itu jarang aku dapati darinya. Jadi dari pada aku sakit hati, mending aku mengurangi interaksi dengannya. Jarak yang aku ciptakan dengan adikku disadari oleh keluargaku. Mereka menyadari aku tidak bisa mengayomi Putri sebagai kakak, dan mereka sering menganggap kalau aku hanya memendam kebencian terhadapnya. Padahal bukan itu poinnya. Aku ngerasa perlakuan keluargaku yang memanjakan Putri sebagai anak terakhir membuat mereka lupa bahwa Putri juga perlu mendapati pendisiplinan dari keluarga, seperti yang aku dan kakakku dapati dulu. Rewards and punishments. Tapi itu tidak banyak didapati Putri sebagai anak terakhir, dia kelebihan rewards and less punishments. Itu tidak adil dan tidak mendidik menurutku, dan hasilnya, Putri. Banyak yang aku ceritakan tentang Putri karena selama ini dia memang lebih banyak berulah. Tapi tenang, meskipun aku menjaga jarak dengan Putri, bukan berarti kita tidak pernah berinteraksi sama sekali. Aku hanya menghindari percakapan-percakapan yang menunjukan sisi tidak hormatnya kepada, agar dia tidak banyak dosa karena bikin aku sakit hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar