Serentetan kejadian aneh setelah SNMPTN bikin aku kadang
mulai mikirin hal-hal ‘aneh’ yang pernah aku alami sebelum SNMPTN itu. Ada satu
kejadian horor menurutku yang hampir aja aku lupa kalo itu pernah kejadian.
Di tempat kosku di Jember. Iya, sebelum SNMPTN memang aku
memutuskan untuk menempuh bimbingan belajar bersama beberapa temanku termasuk
Lia di Jember. Tempat bimbingan belajar kita berbeda meski masih satu kota,
yaitu Jember. Karena tempat bimbingan belajar yang berbeda, tempat kos semestara
kita juga berbeda. Aku kebetulan kos sendiri berpisah dari beberapa temanku
yang lain. Meskipun berpisah, aku tentu saja ngga sendirian di tempat kos. Ada
beberapa anak kos lain disitu yang menempuh bimbingan belajar ditempat yang
sama denganku, dan untungnya beberapa di antara mereka ada teman SMP ku, jadi
aku ga benar-benar merasa asing di tempat itu, aku ada teman. Meskipun ada
teman SMP, aku tidak sering berinteraksi dengan mereka. Mereka terlihat sudah
berencana untuk menempuh kelas bimbingan belajar bersama dan tinggal satu kos
bersama, jadi mereka terlihat akrab. Dan aku yang terbiasa ngapa-ngapain
sendiri merasa tetap sendiri disitu.
Tempat kos yang aku tempati itu masih baru. Baru kami yang
menempatinya pada saat itu. Masih ada beberaa bagian bangunan yang belum
selesai di bangun. Terlihat juga beberapa gundukan semen yang tersisa di
beberapa tempat. Aku memilih tempat kos itu karena jaraknya yang dekat dengan tempat
bimbingan belajarku. Sebenarnya tempat kosku itu lumayan nyaman, tapi terasa
senyap ketika malam mulai menghampiri. Hal itu karena tempat kosku agak sedikit
masuk gang, jadi tidak tepat berada di pinggir jalan raya. Ada untungnya, kami
bisa belajar dengan tenang karena ngga terganggu lalu lalang kendaraaan. Ada
ruginya juga, apalagi kalo kalian termasuk orang yang penakut kaya aku gini.
Karena malam hari terasa sangat sepi dan mencekam apalagi kalo kalian ga ada
teman ngobrol atau menghabiskan waktu.
Btw, aku kos di situ kurang lebih 2 bulan sampai aku SNMPTN.
Suatu malam, kurang lebih dua minggu sebelum SNMPTN, seingatku itu malam jumat.
Tidak ada perasaan aneh yang aku rasain malam itu, sama kaya malam-malam
sebelumnya. Siangnya pun aktifitasku sama seperti biasanya,
bimbingan-pulang-belajar lagi. Malam itu aku juga belajar sampai sekitar jam 10
malam seperti biasanya. Setelah belajar aku pun tidur, maklum ga ada wifi dan
hiburan lain yang bisa jadi alasan buat begadang. Aku pun tidur. Oh iya,
kamarku berukuran kurang lebih 2.5m x 3m, dengan pintu dan jendela berada di
bagian kaki kalo aku tidur, kalian bisa bayangin kan gimana? Bisa lah ya.
Kasurku ga ada dipan, jadi abis kasur ada karpet langsung lantai. Kalo aku
tidur, bagian kaki berhadapan dengan jendela. Okay, malem itu aku tidur sedikit
tidak nyenyak. Ga tau kenapa. Tiba-tiba aku kebangun, aku lantas nge-check hape
ku yang aku taruh disamping bantal yang aku pake, pukul 00.05. Pikiran langsung
terang benderang tidak ada perasaan ngantuk, yang ada perasaan takut. Aku
ngerasa ada yang aneh. Aku ngerasa ada yang duduk di dekat jendela, di samping
kasur dekat kakiku. Aku ga berani ngelihat sosok apa yang ada disitu.
Perasaanku mulai kalut, aku ga berani bergerak sedikitku. Mataku aku tutup
rapat-rapat sambil mulutku komat-kamit membaca doa-doa suci yang bisa aku baca.
Badanku mulai keringat dingin. Aku tetap tidak berani bergerak, bukan tidak
bisa. Setelah setelah beberapa menit aku komat-kamit dan tidak membuahkan
hasil, logikaku mulai cair. Aku langsung meraih hape disamping dan mencoba
menghubungi orangtuaku. Ibuku. Aku ngga yakin beliau masih melek jam segitu apa
enggak, aku tetap berusaha menghubunginya, stelah beberapa kali aku mengulang
panggilan karena ga kunjung diangkat.
“Hallo?” suara samar muncul dari kejauhan dari hapeku.
Akhirnya! Ibuku terbangun karena teleponku.
“Hallo? Bu?” Jawabku sambil gemetaran.
“Kenapa, nduk? Jam berapa ini kok telepon?” tanya ibuku
heran, dari suaranya terdengar ibuku sudah terlelap tidur dari tadi dan
terbangun karena teleponku.
“Bu, aku takut. Ada hantu!” jawabku sambil terengah-engah
ketakutan.
“Heh, maksudnya apa, Nak?” tanya ibuku heran.
“Di samping kakiku, aku ga tau apa. Ada orang kayaknya. Aku
takut. Ga mau pergi.” Jawabku lirih sambil menahan tangis. Aku beneran
ketakutan.
“Ya Allah, Nak. Baca doa, Nduk. Terus coba beranikan diri
lihat apa itu.” Jawab ibu sambil mecoba menenangkanku. Aku tau ibuku pasti
bingung harus merespon bagaimana saat anaknya menelepon tengah malam begitu dan
mengeluh ada hantu.
“Udah, tapi ga mau pergi. Aku kudu gimana? Aku takut, aku ga
berani gerak...” jawabku lirih dengan tak kuasa menahan tangis dan gemetaran.
“Beranikan diri, nduk. Baca bismillah, coba gerakan badanmu.
Panggil temanmu kosmu.” jawab ibuku meyakinkan. Bismillah, kataku dalam hati.
Aku memberanikan diri buat melihat yang ada di bawah kakiku. Dan tidak ada
apa-apa. Aku menutup telepon dengan segera dan bergegas lari keluar kamar dan
pergi ke temanku di kamar sebelah, kamar Mira dan Reni. Iya, mereka sekamar
berdua, yang lain juga begitu, cuma aku aja yang sekamar sendirian. Mungkin itu
alasannya aku ‘ditemani’.
Aku mengetuk pintunya dengan keras dan berkali-kali
tapi tak kunjung ada jawaban. Mungkin mereka sudah tertidur pulas, aku sadar
itu jam berepa. Tapi ketakutanku membutakan semuanya. Aku teteap mengetuk pintu
kamar temanku dengan keras, dan akhirnya mereka terbangun. Dan membuka
pintunya.
“Iya, ada apa, Rim?” tanya temanku dengan muka ngantuknya.
Aku langsung bergegas masuk kamarnya tanpa disuruh masuk terlebih dahulu.
“Rek, maaf ya ganggu. Tapi aku takut banget!” jawabku sambil
terengah-engah ketakutan.
“Kenapa? Ada apa?” Tanya kedua temanku.
“Aku gak tau ada apa dikamarku tadi. Tapi aku takut banget.
Aku malem ini numpang tidur disini dulu ya?” tanyaku memelas. Mereka mungkin ga
puas karena jawabanku. Karena ngantuknya juga mereka mengiyakanku dan membiarkan
aku tidur bersama mereka malam itu. Aku pun mulai tenang dan tetap tidak
berhenti membaca doa-doa. Terimakasih Mira dan Reni, kalian the real MVP :')
Mungkin seluruh dunia tidak akan mempercayai apa yang aku
alami malam itu. Mereka dan kalian pun ga akan percaya kalo yang aku alami itu
emang kejadian horor. Kebanyakan dari kalian bakalan mikir kalo itu hanya
bagian dari halusinasiku, atau bahkan sebagian dari kalian akan ikir kalau aku
sedang kelindihan kek atau apa kek. Tapi aku yakin, itu bukan hal semacam itu.
Malam itu ada yang duduk di samping kakiku. Malam itu ada yang mencoba
mengangguku. Tapi aku ga tau apa dan aku ga punya orang yang tepat yang bisa
jelasin apa yang sedang terjadi malam itu padaku. Sampai akhirnya, aku sendiri
yang mendapati jawaban dari itu semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar