Aku. Saudaraku. Cantik.
Sebelumnya aku pernah cerita bagaimana kisah cinta ku
berakhir tragis. Okay, itu lebay. Nggak tragis sih, cuma memiliki ending yang
ga jelas aja.
Sebenarnya bukan kisah yang sangat mengharu biru atau
benar-benar kisah memilukan yang pernah terjadi dalam kisah hidup umat manusia,
tapi cuma aku aja yang terlalu lemah jadi cewe yang bikin kisah kaya gitu
berdampak banget dalam kehidupanku.
Setelah mengakhiri kisah pilu dengan pria hidung belang itu,
aku memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia percintaan dan asmara. Rasa sakit
hati bercampur heran buat aku susah move on pada saat itu. Lama banget aku ga
mencoba membuka hati sama orang baru buat menjalin kisah cinta bertajuk
pacaran. Hampir dua tahun aku menyandang status sampah masyarakat kekinian, its
called jomblo. Ga tau kenapa, kisah cinta tragis ku yang terakhir kemarin
bener-bener bikin aku sangat berhati-hati buat deket sama cowo baru. Ga patut
dicontoh.
Lama menjomblo bukan berarti aku ga bisa move on ya. Sorry to say ya, aku
udah 100% move on, cuma belum mau membuka hati sama orang baru dan memulai kisah
cinta baru dan cerita baru. Aku menikmati kesendirianku, hingga tuntutan sosial
yang ngerubah itu semua.
Iya, tuntutan sosial. Tiga bersaudara cewe semua ga akan
selamanya bikin hidup kamu seneng-seneng aja. Apalagi saudara kamu itu
cantik-cantik. Kakakku yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dariku nggak
kunjung menunjukan keriput di wajahnya meskipun dia udah punya suami dan udah
dikarunia satu orang anak, yang ada makin hari malah makin cantik dan seksi
aja. Kata orang sih, yang kaya gitu nunjukin kalo wanita itu udah sukses jadi
seorang istri dan ibu. Okay, aku maklum. Selanjutnya, punya adik cewe yang
terpaut 6 tahun lebih muda yang emang dari sononya udah dikaruniai rupa yang
cantik kemudian ditambah semangat juangnya menjadi cewe yang lebih cantik
diatas rata-rata (read : jago dandan) sukses bikin aku yang berpawakan tomboy
tapi blo'on ini semakin tersudutkan sama keadaan.
Kenapa enggak? Kakakku cantik dari sononya mahmud (re :
mamah muda) yang sukses sebagai istri dan ibu, sedang adik ku jago dandan dan
emang doyan dandan mulai menunjukkan pesonanya dengan kelihaiannya menarik hati
lawan jenis. Sedangkan aku yang dari dulu sampe sekarang selalu salah kostum
kalo kemana-mana mulai merasa dunia ini ga adil. Apalagi ditambah kisah asmara
yang berakhir ‘tragis’. Udah cukup, emang aku gagal dalam pertarungan
kecantikan dan perhelatan kisah asmara ini. *nangis*
Bukan itu aja tuntutan kenyataan sosial yang harus aku
hadapi. People judge! Itu yang sering kali bikin aku ga tahan. Sangat sering,
apalagi dasarnya aku yang sangat sensitif dengan pendapat orang tentang aku.
Jadi satu sindiran halus yang ditujukan buat aku mampu merusak visi misi
hidupku dalam sepuluh tahun ke depan. Memang, sekali lagi ga patut di contoh. Harusnya
keadaan seperti itu bisa bikin kamu termotivasi untuk jadi lebih cantik, eh
salah, lebih baik, bukan malah ngerasa minder seperti aku. Tapi ya gimana lagi
ya? *nangis*
Well, dari sekian banyak kekuranganku yang aku miliki dibanding dua saudaraku yang lain, bukan berarti aku ga punya kelebihan. *uhuk* *busungin dada*
Ada lah beberapa hal yang bisa aku tonjolin selain tulang belulangku ini. *nunjuk beberapa bagian tulang yang menonjol di badan yang saking kurusnya*
Sebenarnya aku juga ga tau ini berupa kelebihan atau saking dalihku aja. Aku memiliki minat yang lebih di dunia pendidikan dibanding kedua saudara. Kemampuan akademik yang lebih gemilang ini bikin aku sedikit lebih percaya diri dalam berkarier, eh maksudku dalam menjalani hidup. Memang bukan prestasi akademik tingkat nasional ataupun tingkat internasional. Namun, tekad kuatku untuk tetap menempuh pendidikan tinggi ini setidaknya yang bisa aku banggakan dari diriku dan untuk keluargaku juga. Meskipun sampai sekarang skripsi masih sampai Bab 3 dan belum kunjung seminar proposal (semoga secepatnya, aamiin). Jenjang prestasi akademik yang baik meskipun tidak selalu terbaik selalu menjadi senjata andalan yang aku miliki. Iya, aku lebih baik dalam hal itu. Udah itu aja. Mungkin di dalam jiwaku ini terpendam sebuah kekuatan super yang aku miliki, tapi entah mengapa sampai sekarang aku belum ngerasain tanda-tanda munculnya kekuatan itu. Pfftt. . .
Aku bukan mengklaim kalo aku jago dalam segala bidang akademik ya, cuma aku lebih baik aja dibanding kedua saudaraku. *uhuk* *sombong*
Hal itu yang bikin aku bertahan sejauh ini dalam ngerjain skripsi. Orang tuaku bahkan kakakku ga bakal ngerti susah payahnya ngerjain skripsinya anak Hubungan Internasional. Aku ngerasain, dan itu susah. Tapi aku bertahan, demi masa depan yang lebih baik. Keluargaku, i love u, guys. All these damn efforts are only for u, guys! Mereka percaya. Mereka emang harus percaya.
Intinya, kita bertiga berbeda. Kita bertiga punya sisi cantik masing-masing. Meski perbedaan itu terkadang ga bisa aku cerna dan terima dengan baik, intinya aku tetap terima. Karena kita bertiga cantik dari sudut pandang yang berbeda. *smile*
Udah. ah. Gitu aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar