Muka

Jumat, 07 Oktober 2016

Lima Belas

Aku. Saudaraku. Cantik.


Sebelumnya aku pernah cerita bagaimana kisah cinta ku berakhir tragis. Okay, itu lebay. Nggak tragis sih, cuma memiliki ending yang ga jelas aja.

Sebenarnya bukan kisah yang sangat mengharu biru atau benar-benar kisah memilukan yang pernah terjadi dalam kisah hidup umat manusia, tapi cuma aku aja yang terlalu lemah jadi cewe yang bikin kisah kaya gitu berdampak banget dalam kehidupanku.

Setelah mengakhiri kisah pilu dengan pria hidung belang itu, aku memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia percintaan dan asmara. Rasa sakit hati bercampur heran buat aku susah move on pada saat itu. Lama banget aku ga mencoba membuka hati sama orang baru buat menjalin kisah cinta bertajuk pacaran. Hampir dua tahun aku menyandang status sampah masyarakat kekinian, its called jomblo. Ga tau kenapa, kisah cinta tragis ku yang terakhir kemarin bener-bener bikin aku sangat berhati-hati buat deket sama cowo baru. Ga patut dicontoh.

Lama menjomblo bukan berarti aku ga bisa move on ya. Sorry to say ya, aku udah 100% move on, cuma belum mau membuka hati sama orang baru dan memulai kisah cinta baru dan cerita baru. Aku menikmati kesendirianku, hingga tuntutan sosial yang ngerubah itu semua.

Iya, tuntutan sosial. Tiga bersaudara cewe semua ga akan selamanya bikin hidup kamu seneng-seneng aja. Apalagi saudara kamu itu cantik-cantik. Kakakku yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dariku nggak kunjung menunjukan keriput di wajahnya meskipun dia udah punya suami dan udah dikarunia satu orang anak, yang ada makin hari malah makin cantik dan seksi aja. Kata orang sih, yang kaya gitu nunjukin kalo wanita itu udah sukses jadi seorang istri dan ibu. Okay, aku maklum. Selanjutnya, punya adik cewe yang terpaut 6 tahun lebih muda yang emang dari sononya udah dikaruniai rupa yang cantik kemudian ditambah semangat juangnya menjadi cewe yang lebih cantik diatas rata-rata (read : jago dandan) sukses bikin aku yang berpawakan tomboy tapi blo'on ini semakin tersudutkan sama keadaan.

Kenapa enggak? Kakakku cantik dari sononya mahmud (re : mamah muda) yang sukses sebagai istri dan ibu, sedang adik ku jago dandan dan emang doyan dandan mulai menunjukkan pesonanya dengan kelihaiannya menarik hati lawan jenis. Sedangkan aku yang dari dulu sampe sekarang selalu salah kostum kalo kemana-mana mulai merasa dunia ini ga adil. Apalagi ditambah kisah asmara yang berakhir ‘tragis’. Udah cukup, emang aku gagal dalam pertarungan kecantikan dan perhelatan kisah asmara ini. *nangis*

Bukan itu aja tuntutan kenyataan sosial yang harus aku hadapi. People judge! Itu yang sering kali bikin aku ga tahan. Sangat sering, apalagi dasarnya aku yang sangat sensitif dengan pendapat orang tentang aku. Jadi satu sindiran halus yang ditujukan buat aku mampu merusak visi misi hidupku dalam sepuluh tahun ke depan. Memang, sekali lagi ga patut di contoh. Harusnya keadaan seperti itu bisa bikin kamu termotivasi untuk jadi lebih cantik, eh salah, lebih baik, bukan malah ngerasa minder seperti aku. Tapi ya gimana lagi ya? *nangis*

Well, dari sekian banyak kekuranganku yang aku miliki dibanding dua saudaraku yang lain, bukan berarti aku ga punya kelebihan. *uhuk* *busungin dada*
Ada lah beberapa hal yang bisa aku tonjolin selain tulang belulangku ini. *nunjuk beberapa bagian tulang yang menonjol di badan yang saking kurusnya*
Sebenarnya aku juga ga tau ini berupa kelebihan atau saking dalihku aja. Aku memiliki minat yang lebih di dunia pendidikan dibanding kedua saudara. Kemampuan akademik yang lebih gemilang ini bikin aku sedikit lebih percaya diri dalam berkarier, eh maksudku dalam menjalani hidup. Memang bukan prestasi akademik tingkat nasional ataupun tingkat internasional. Namun, tekad kuatku untuk tetap menempuh pendidikan tinggi ini setidaknya yang bisa aku banggakan dari diriku dan untuk keluargaku juga. Meskipun sampai sekarang skripsi masih sampai Bab 3 dan belum kunjung seminar proposal (semoga secepatnya, aamiin). Jenjang prestasi akademik yang baik meskipun tidak selalu terbaik selalu menjadi senjata andalan yang aku miliki. Iya, aku lebih baik dalam hal itu. Udah itu aja. Mungkin di dalam jiwaku ini terpendam sebuah kekuatan super yang aku miliki, tapi entah mengapa sampai sekarang aku belum ngerasain tanda-tanda munculnya kekuatan itu. Pfftt. . .

Aku bukan mengklaim kalo aku jago dalam segala bidang akademik ya, cuma aku lebih baik aja dibanding kedua saudaraku. *uhuk* *sombong*
Hal itu yang bikin aku bertahan sejauh ini dalam ngerjain skripsi. Orang tuaku bahkan kakakku ga bakal ngerti susah payahnya ngerjain skripsinya anak Hubungan Internasional. Aku ngerasain, dan itu susah. Tapi aku bertahan, demi masa depan yang lebih baik. Keluargaku, i love u, guys. All these damn efforts are only for u, guys! Mereka percaya. Mereka emang harus percaya.

Intinya, kita bertiga berbeda. Kita bertiga punya sisi cantik masing-masing. Meski perbedaan itu terkadang ga bisa aku cerna dan terima dengan baik, intinya aku tetap terima. Karena kita bertiga cantik dari sudut pandang yang berbeda. *smile*

Udah. ah. Gitu aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar